“Kalau boleh, aku ingin hujan menghapus jarak kita yang abstrak. Bukankah aku boleh memintamu datang sebelum senja. Agar tuntas tanyaku tentang apa yang Rabb tuliskan di Lauhul Mahfudz. Dan lagi pada hujan paling rintik di kotaku, aku belajar sabar.”

-Khairul Azzam-

Kita pasti kembali

Hujan turun di penghujung hari menjelang malam,

aroma tanah yang basah naik ke permukaan…

****
Sisa-sisa air menetes dari genting maupun dahan,

tercipta nada dari benda yang terkena jatuhan…

****

Hujan berhenti menyisakan air yang tergenang,

air meresap dan suasana hati kian tak tenang…

****

Entah bagaimana menggambarkan keresahan ini,

seperti ada sesuatu yang harus direnungkan kembali…

****

Kita pasti kembali bagai hujan jatuh ke lembah dan daratan,

smua kan kembali kepada Pemilik kehidupan…

****

Hujan menjelang malam dan langit memerah akhir dari petang,

diperlihatkan kuasa-Nya memutar Waktu menuju pergantian…

****

Terlintas sejenak tentang hari yang Dijanjikan,

tiada lagi yang dapat diusahakan selain amal ibadah menjadi jaminan…

****

Hujan menjelang malam diiringi lantunan Al-Qur’an…

Mengingatkan kita akan kembali menuju Keabadian…

****

Hujan menjelang malam dengan lantunan Ayat Suci…

waktu maghrib telah datang,,,

Mari persiapkan diri tuk berjumpa dengan Sang Ilahi…

___________
Sulthoni Zsulton

yakin jika,

percuma meyakinkan orang lain bahwa ‘kamu’ bisa

percuma, jika tanpa pembuktian nyata.

mereka tidak akan mendengar apa-apa dari mu

pembuktian hanya dilihat dari tindakan

dan sekali lagi ‘kamu’ masih gagal meyakinkannya