Tantangan #10 Pertanyaan sepele

Bismillah.. menyambung tantangan yang kemarin terkait “memilih waktu yang tepat untuk berkomunikasi”, pada pasangan LDM seperti kami menanyakan kabar sebelum mulai berbincang kini trlah menjadi kebiasaan spontan 😊.

hari ini saya bertanya banyak hal

lagi apa?

pekan ini pulang jam berapa?

tugas ke bali tanggal berapa?

dan pertanyaan lain yang sebisa mungkin dapat menggambarkan keadaan untuk mulai berbincang hal lebih dalam lainnya. begitupula dengan suami, ia bertanya :

lagi ngapain?

bagaimana jualan hari ini?

dll. 😁

menanyakan kabar bagi kami adalah kebiasaan yang dibentuk dengan perjuangan #ceileh. awalnya mungkin risih karena ditanya ini-itu, seperti wartawan saja. tapi lama kelamaan kami menyadari bahwa bertanya mengenai hal-hal sepele dapat membuka jalan menuju komunikasi produktif.

Alhamdulillah ^^ hari ini berjalan cukup menyenangkan. permintaan sy agar suami pulang cepat besok insyaAllah akan diusahakan oleh suami. yeay!

Advertisements

Tantangan #9 Komunikasi pada waktu yang tepat

Assalamualaikum… hari ini Alhamdulillah gk mutung dan males nulis seperti 3 hr yg lalu πŸ˜‚. jadi kita sambung yaaaa.

Tantangan yg sy hadapi hari ini adalah bagaimana agar dpt berkomunikasi pada waktu yg tepat. karena, salah satu kaidah yg perlu dipenuhi dalam komunikasi produktif ialah  memilih waktu terbaik ketika akan berkomunikasi. Dalam artian, kita mampu melihat Sikon pasangan lawan bicara. apakah moodnya sedang baik atau tidak, kelelahan atau tidak, sedang sibuk, tidak fokus dsb.

sehabis maghrib sy mencoba berkomunikasi via whatsapp untuk menyepakati agenda akhir pekan. awalnya agak ragu me mulai pembicaraan krna suami baru sj tiba di kosnya setelah Dina’s ke bandung. Tapi bismillah sy berniat utk membicarakan 1 hal sj… yaitu jadwal ujian tahsin hhe. agak kaku memang… dan diakhir2 ketika kita sedang membahas rambutnya yg baru sj dipotong, sy merasa chat lebih sy dominasi, krna suami mulai berbicara irit. seperti nya ini sudah tanda2… dia kelelahan dan butuh istirahat. 

memang sudah Seharusnya sy faham dan mengakhiri. begitulah forum kami pada hari ini 😊. jika pada pasangan non LDM, Sikon saat ingin memulai komunikasi dpt disimpulkan melalui raut wajah pasangan atau aktivitas yg sedang ia lakukan. maka berbeda halnya dengan sy, yang harus lebih jeli memperhatikan Sikon Tanpa melihat wajah pasangan. Alhamdulillah saya syukuri bahwa saya mempelajari Banyak hal Dari pengalaman berkomunikasi produktif via jarak jauh ini.
keep healthy semuaaa

Tantangan #8 Mendewasa bersama

Sabtu 11 November 2017

Alhamdulillah… I’m home. akhirnya tepat pukul 22.30 sy bisa melanjutkan misi menulis pengalaman dan tantangan dalam menerapkan komunikasi produktif. Tak terasa sudah memasuki hari ke 8 tantangan level 1 ini. Meskipun kaidah2 dalam komunikasi produktif hanya mampu saya terapkan sedikit demi sedikit, namun luar biasa kenyamanan komunikasi yang kini saya rasakan. Namanya juga perempuan yaa seneng banget berbicara atau berkomunikasi dan alangkah bahagianya ketika apa yang kita komunikasikan tersampaikan/diterima dengan baik oleh pasangan. :”) thanks to kelas bunda sayang. Padahal baru mencicipi hidangan level 1 nya, tapi sy sudah merasa sangat terbantu sekali.

Hari ini, saya dan suami jadi lebih terbiasa dengan cara berkomunikasi yang baru. Tidak banyak yang berubah, namun mendewasa bersama insyaAllah akan trus kami upayakan. komunikasi semisal :

S : Bagaimana jika kita minta tolong sepupu untuk mengantarkan pulang ke stasiun hari ini?

D : oh, ookee bentar ya dhita tanya dulu

D : belum dibales, sepertinya gk bisa. gimana aa? Naik Grab aja dari pagi (karena kita paginya harus kondangan) dan nunggu di sekitar stasiun hingga jadwal keberangkatan sore? kalau harus bawa motor pagi dan bolak balik nganter motor kyknya sulit

S : Dhita capek ya bolak balik?

D : iya… πŸ˜…

S : yaudah, dhita tetep di stasiun aja, nnti aa balikin motor ke rumah sendiri baru pesen grab.

D : iya ..terserah

….

S : ahaa, gmn kalau motornya tetep ditinggal di daerah deket stasiun dan nanti minta tlg a fajar yg ambil aja

D : ooh cb telfon a fajar

Akhirnya kami mengambil solusi terakhir 😊. komunikasi untuk saling menghargai pendapat dan ide2 baru. Apalagi dalam sebuah perjalanan dimana kita dituntut untuk cepat mengambil keputusan.

Lalu bonusnya, hari ini saya bisa makan makanan yang sulit sekali saya temukan di kuningan. Lontong sayur sumatera hhaha. kangen rasanya.

Next semoga ada banyak tantangan baru yang bisa kami selesaikan bersama 😊. selamat istirahat

Tantangan #7 Menghargai keputusan

jumat, 10 November 2017

Yeaaaay we’r in jogjaaaaa. wuhuuu. karena acara utama (kondangan) nya jatuh pada hari sabtu pagi, maka hari ini kami masih bisa menghabiskan waktu untuk silaturahim, jalan2 dan makan2.

Bahagia rasanya setelah kunjungan terakhir kami di jogja pada bulan februari. kali ini terasa banyak yang berbeda. salah satunya ialah adanya tempat2 wisata baru. kali ini saya memilih percaya pada keputusan suami untuk berangkat menikmati wisata baru di cangkringan “The Lost World” menurut ceritanya tempatnya bagus dan banyak spot fotonya. Namun ternyataaaa jeng jeng jeng jeng..  jalan yang kami lalui penuh batu2 berliku. πŸ˜‚ dalam keadaan hamil begini rasanyaaaa masyaAllah sekali.

Bisa saja sy memilih untuk marah2 dan menyalahkan keputusan suami. tapi tentu sy harus berpikir dewasa bahwa keputusan telah sYa sepakati. itu berarti sy harus menerimanya sebagai keputusan utama 😊

D : aa, dhita mau ngerjain tugas nih… tapi bahas masalah komunikasi apa ya?

S : hmmm apa ya… gk tau 

D : hr ini kita ada masalah dalam komunikasi gk?

S : nggak kok 😊

Alhamdulillah… hari ini semuanya lancaaaar. semoga besok pun ada banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran. Thank youuu 😘

Tantangan #6 Persiapan Short Trip menuju Yogyakarta

Sudah sekitar 9 bulanan, sy dan suami tidak melakukan perjalanan jauh yang memerlukan persiapan berarti. Alhamdulillah akhir pekan ini kami berkesempatan untuk kembali mencicipi hangatnya kota Yogyakakarta yeeaaaay. Bismillah! meskipun hanya sekerdar short Trip kurang Dari 24 jam, tentunya ada dong yaa tantangan2 kecil dalam persiapan nya. πŸ˜‚πŸ˜€

menyambung cerita kemarin, terkait “kemana kami akan tinggal selama di jogja” akhirnya percakapan bisa saya mulai dengan lebih santai dan menunjukkan fakta2 bahwa “kita akan baik2 saja meskipun pemilik Rumah sedang berasa di luar kota dan pemilik Rumah jg sudah melerakan Serta tidak merasa terganggu” hal itu saya bicarakan dengan menunjukan bukti otentik berupa hasil chat saya dengan teteh (pemilik Rumah) hhe… Alhamdulillah tantangan pun selesai.

Namun bukan pasangan namanya jika kami tidak menemukan perbedaan lainnya. Kali ini perihal persiapan Baju dan perbekalan. Sudah fitrahnya laki2 memang lebih santai dalam merencanakan perjalanan, sedang kan perempuan akan lebih ribet dan memerlukan persiapan yang panjang.

D : aa, ayo buruan packing

S : iya ntar, santai sih.

D : aa ini bajunya dicoba duluuu bener masih muat gk untuk kondangan?

S : iya ntar sih… mandi dulu

D : IH Cobain dulu, ini mau dhita lipet

S : ntar…

D : yuk berangkat

S : bentar… masih nunggu mules, mau ke WC

D : yaudah sekarang atuh… jgn main hp aja

S : iya ( Tanpa beranjak)

tiba2, triiing sy teringat salah satu jurus menaklukan suami. hha jika ingin membuatnya melakukan sesuatu, selain menatap matanya kita jg perlu memegang pundak atau bagian tubuh lainnya.

D : ayoo… (memang pundak dielus2)

S : iya iya (langsung gerak) hhahaha

well mungkin ini bisa jadi semacam tips juga ya bagi pada istri di Rumah. 

doakan perjalanan kami yaaa. maaf nulis singkat, sambil menunggu kereta πŸ˜‚

Tantangan #5 Berfikir 2 kali

Rabu, 8 November 2017

beberapa waktu yang lalu :

D : aa besok kita tidurnya di jogja di rumah teteh ya. Teteh kan kesini, rumahnya kosong

S : iya

Hari ini :

S : besok kita tidur dimana?

D : Di rumah teteh… kok nanya lagi sih? Gak fokus (agak agak naik emosi)

S : kan gak ada orang, gak sopan lah… apalagi rumahnya udah dijual 

D : *menghilang dari muka bumi*

πŸ˜‚ percakapan singkat yang cukup lebay sy tanggapi dengan Meningkatnya emosi. sebenarnya saat itu sy ingin menerapkan kaidah komunikasi produktif agar mengutamakan nalar dibanding emosi. Namun, akhirnya saya menghilang dr percakapan karena terbayangΒ² dengan pola komunikasi kami yang dulu2 (idak ada yang mengalah dengan pendapatnya). lalu saya ketiduran hingga 1 jam sebelum sy menuliskan tantangan komunikasi hri ini (maafkan istrimu ini ya suamik) hho.

Bagaimana yah menghadapi suami yang sering berfikir 2 kali, atau plin plan? atau kadang sy merasa di PHP in karena kesepakatan lama yang kembali direvisi. sudah lama jg rasanya sy gk diginiin #halah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Sejujurnya, mungkin sy lebih cepat sensi karena hormon kehamilan dan juga Short trip dadakan yang sedang kami rencanakan. Membuat banyak hal yang harus kami sepakati dan eksekusi via phone jarak jauh. 

Besok semoga sy bisa menemukan solusi berkomunikasi dengan pasangan yang suka berfikir 2 kali. karena sudah seharusnyalah saya bertanggung jawab dengan komunikasi yang sudah saya sampaikan bbrp hari sebelumnya. mungkin pesannya belum tersampaikan dengan benar pada pasangan πŸ™‚

atau mungkin bunda2 ada yg mau bantu menemukan solusi? boleh komen di bawah yaa :3 :3

Tantangan #4 Komunikasi ketika LDM

Selasa, 7 November 2017

Seperti yang pernah saya ceritakan secara terpisah sebelumnya, di kelas bunda sayang dijelaskan bahwa ada beberapa kaidah yg dapat meningkatkan efektifitas dan produktifitas komunikasi pada pasangan. Yakin :

  1. Kaidah 2C : Clear and clarify
  2. Choose the right time
  3. Kaidah 7-38-55
  4. Intensity of eye contact
  5. I’m responsible for my communication result

ketika menjalani Long distance Marriage (LDM), tentunya saya akan memperoleh tantangan untuk menerapkan kaidah point 3 dan 4. Kaidah 7-38-55 maksudnya ialah aspek verbal (kata-kata) hanya mempengaruhi komunikasi sebanyak 7%. sedang kan Intonasi memiliki 38% pengaruh Serta bahasa tubuh mempengaruhi sekitar 55%. Bagaimana mungkin pasangan LDM yang terbkasa dengan percakapan text melalui Chat bisa menerapkannya?

Kaidah keempat yaitu mengenai bertatap mata. Bahwa mata adalah jendela hati yang dapat menjelaskan hal-hal tersembunyi dibalik kata. Tapi lagi2, bagaimanakah pasangan LDM dapat melakukan nya? 

Awalnya sulit bagi saya dan pasangan untuk dapat berkomunikasi dgn baik. Sering bertengkar karena salah mengartikan pesan text yang ada. Intonasi text tidak terbaca oleh pasangan kan? Namun hari ini saya mencoba menyelesaikan tantangan ini. tantangan agar dapat memahami perasaan yang disampaikan oleh pasangan dapat kita baca melalui emotikon2 yang dipilih. jika sudah terbiasa, maka melihat emotikon itu seperti menatap wajah pasangan sendiri. hhe meskipun ada kemungkinan pasangan menutupi perasaannya dengan melampirkan emotikon yang berbeda. Sesekali untuk pembicaraan penting pun dapat direkam dan dikirim kan. Lalu untuk meredam kekhawatiran kita bisa mengatasinya dengan menelfon pasangan. suara yang terdengar melalui telefon akan lebih menenangkan prasangka. Intonasi akan terbaca 😊.

Hari ini, saya belajar sesuatu dari tantangan yang ingin saya selesai kan. Alhamdulillah… kami telah selesai merencanakan shot trip ke jogja di akhir pekan via komunikasi jarak jauh πŸ˜πŸ˜‚. Mohon DOA agar kami selalu dapat memahami satu-sama lain ya manteman. ^^ see you besok di tantangan selanjutnyaah