Masalah Perencanaan (Urbanisasi) dan Perencanaan seharusnya

Oleh : Maisyarah Pradhita Sari

Nim : 09/284437/TK/35315

Ujian Mata Kuliah Teori Perencanaan : Magister Perencanaan Kota dan Daerah

spatial planning

Urbanisasi dan Permasalahan kota

Kenyataan sering mendahului tata kota (Frick : 2007). Kota-kota saat ini tumbuh secara liar, sehingga menjadi kota anonim yang terjadi akibat tidak adanya rencana. Pergantian fungsi kota menjadi kota industri, membuat masyarakat berbondong-bondong datang ke kota. Hal ini disebut dengan proses urbanisaasi yang terjadi dari desa ke kota, akibat adanya daya tarik kota terkait penyediaan lapangan kerja maupun kehidupan yang lebih baik.

Urbanisasi merupakan sebuah bentuk peralihan kondisi sosial-spasial masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Di satu sisi urbanisasi dibutuhkan untuk mentransformasi kondisi sosial masyarakat, namun urbanisasi semu mulai timbul dengan menurunnya kualitas SDA masyarakat yang berpindah.

Proses migrasi dari desa ke kota tidak diimbangi dengan proses masuknya individu-individu yang berkualitas untuk mewujudkan pembangunan kota menggunakan sistem Bottom Up. Soetomo (2009) mengatakan bahwa :

Proses urbanisasi melalui proses migrasi tersebut menempatkan kota-kota besar dalam proses selektif sosio spasial yang menciptakan kemiskinan kota, kesenjangan yang rawan terhadap kelompok yang dikategorikan sebagai sektor informal dan Psedeu Urbanisasi (Urbanisasi semu).

Selain permasalahan yang ditimbulkan oleh urbanisasi, permasalahan penataan ruang kota juga terjadi akibat teori-teori perencanaan kota yang dipakai di indonesia sebagian besar merupakan teori yang berasal dari adat barat dan diadopsi dari kebudayaan mereka di negara maju. Sedangkan indonesia ialah negara dunia ketiga yang sebagian besar masyarakatnya masih mengacu pada adat istiadat lokal daerah masing-masing yang sangat beragam, maka dari itu, untuk memajukan perencanaan kota di indonesia perlu dimulai dengan dibangunnya teori-teori yang sesuai karakteristik wilayah lokal di Indonesia sendiri.

Arus globalisasi turut menyumbangkan pemikiran-pemikiran baru dalam perencanaan kota. Sistem demokrasi juga mulai di adopsi oleh indonesia dari negara Barat dengan paham kapitalisme. Pemikir kapitalisme berlandasan pada fundalisme pasar, yaitu berpendapat bahwa kepentingan umum pasti akan terpenuhi kebutuhannya jika masing-masing orang dibiarkan mengejar kepentingannya sendiri. Menurut paham ini, setiap orang demi kepentingan pribadinya pasti akan melakukan apa saja, sehingga hasil akhirnya kepentingan umum akan terwujudkan. Namun paham ini tidak melihat pada kenyataan lain bahwa ketika ketidakstabilan pasar muncul, maka kepentingan-kepentingan individu akan lebih kuat sehingga mengdorong keegoisan yang tidak berujung pada kepentingan bersama.

Perencanaan Seharusnya

Kota adalah partikel yang memiliki atom-atom pembentuk. Agar dapat memperbaiki kota, para perencana perlu mengenal kota yang akan diperbaiki tersebut. Tidak hanya mengenai masalah apa yang menjangkiti kota, namun terkait dengan ketahanan serta kekebalan dari kota itu sendiri. Salah satu elemen yang harus dipelajari ialah mengenai kondisi masyarakatnya.

Tiap individu maupun kelompok masyarakat akan memperoleh resiko atau ketidakpastian dari luar lingkungannya, apapun bisa terjadi. Tanpa perencanaan kota, individu dan masyarakat akan bertindak semaunya saja, pemanfaatan lahan akan terjadi dimana-mana, disinilah letak Rencana Tata Ruang wilayah harusnya bukan hanya menjadi pengatur guna lahan yang ada namun juga merumuskan bagaimana tata guna lahan yang direncanakan dapat diwujudkan demi pembangunan kota yang lebih baik.

John Clammer dalam Zahnd (2008) telah mengarahkan sistem strategi untuk dapat mengarahkan perkembangan kota secara lebih baik melalui :

  1. Tuntutan-tuntutan strategis menekankan pada aspek-aspek sosio-spasial
  2. Pola-pola perkotaan perlu digabungkan dengan lokalitas setempatnya
  3. Perkembangan kota yang efektif tidak menekankan tempat pembangunannya saja, melainkan juga dinamika di dalamnya, serta hubungannya dengan tempat pembangunan lain.

Perencanaan idealnya tidak hanya memperhatikan elemen fisik saja namun juga sosio-spatial yang terjadi dalam suatu wilayah. Sehingga suatu kota direncanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat/lingkungan yang akan hidup didalamnya. Mengampu banyak kepentingan didalam sebuah perencanaan menjadikan sebuah perencanaan dapat diwujudkan secara bersama-sama oleh elemen masyarakat.

Pola-pola perkotaan dikembalikan lagi sesuai dengan budaya lokalitas setempat, agar fungsi dari pola perkotaan yang telah direncanakan merupakan hasil intepretas kegiatan sosial yang berlangsung sebelumnya di kawasan tersebut. Namun tidak berarti bahwa pola perkotaan lain yang berasal dari budaya yang berbeda tidak dapat disatukan secara lebih serasi.

Zahnd (2008) juga telah merumuskan pendekatan yang berdasarkan pada 5 kriteria untuk dapat mengefektifkan perencanaan kota dalam lingkungan indonesia. 5 kriteria tersebut ialah :

  1. Mendukung identitas : perencanaan kota diarahkan agar dapat mendukung watak kawasan yang dibangun tanpa harus merancang secara langsung
  2. Memungkinkan vitalitas : dalam hal ini perencanaan kota mendukung berbagai cara urbanisasi, baik yang terjadi secara formal maupun informal tanpa adanya pembatasan
  3. Membiarkan fleksibilitas : perencanaan kota juga perlu untuk mendukung perkembangan yang dinamis dengan batasan tertentu dengan potensi terhadap perubahan yang bermacam-macam
  4. Menguatkan efisiensi : perencanaan harus mendukung gagasan-gagasan pembangunan kota yang menggunakan massa dan ruang kota secara efisien.
  5. Melibatkan realisasi : perencanaan kota yang efektif menggunakan sistem yang ada dalam realitas pembangunan kota, namun tidak dihambat oleh sistem tersebut.

Maka dapat kita simpulkan bahwa Perencanaan yang baik ialah bukan perencanaan yang hanya mengatur tata guna lahan secara fisik, namun juga dapat mewujudkan perencanaan tata guna lahan tersebut menjadi sebuah kawasan yang memiliki identitas dari hasil rencana, perencanaan kota juga harus mempertimbangkan aspek-aspek baru yang akan muncul sesuai dengan perkembangan waktu, selain urbanisasi yang terjadi akibat adanya modernisasi, bisa jadi akan ada faktor lain yang akan mempengaruhi perencanaan kota di era globalisasi ini

Semua standar yang telah disusun untuk mendukung perencanaan kota yang lebih baik ini akan lebih sempurna lagi menurut saya apabila perencanaan kota manapun dilandaskan pada konsep keberlanjutan. Dimana, kehhidupan sekarang tentunya akan sangat berpengaruh bagi kehidupan yang akan datang, ketika kita bijak merencanakan maka kondisi kota dimasa depan mungkin saja akan menjadi lebih baik lagi tanpa mengurangi keseimbangan lingkungan alam.

-::-

Gambar dari sini

One thought on “Masalah Perencanaan (Urbanisasi) dan Perencanaan seharusnya

  1. Pingback: Urbanisasi dengan sudut kota dan desa | walamandiriblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s