Teror, dari mana asalnya?

Tuan, saya adalah seorang anak perempuan dari sebuah keluarga sederhana

Memahami keyakinan beragama dalam keluarga secara sederhana pula–bahkan terkesan apa adanya.

Saya menyukai pelajaran-pelajaran pengembangan diri, kegiatan kerohanian dan pengabdian sosial

Saya mencari banyak tambahan pengetahuan saat beraktivitas di luar rumah bersama teman dan guru-guru saya.

Lingkungan luar membentuk saya, lingkungan keluarga memperkokoh karakter dan kepribadian saya

Sebelum menginjak dewasa, saya tidak pernah mengerti keadaan apa yang menimpa tuan saat itu

Birokrasi, lobi-lobi pemeriintah, proyek, politik dan hal lain yang tuan alami. begitu keras kah hidup disana tuan?

Sedangkan hidup bagi saya sudah sebegitu baiknya walaupun tinggal di sebuah pulau kecil dengan jarak tempuh terjauh sekitar 2-4 jam.

Saat itu saya tidak takut akan apapun, saya sering berjalan-jalan di hutan bersama teman-teman, mencari kerang di pinggir dan tengah pantai, mempelajari tali-temali dalam kegentingan, menikmati gelap malam di kuburan, mengikuti perlombaan kecerdasan-puisi-menari-hingga berdarah-darah mengikuti lomba menabuh kompang (alat musik tradisional masyarakat melayu), atau belajar alquran di sebuah TK dan kemudian mengajarkan adik-adik TK untuk juga menikmatinya.

aah terlalu indah masa-masa itu tuan. sampai-sampai saya sulit menghentikan kalimat ketika menceritakannya 🙂

Saat-saat seperti itu adalah saat saya membangun kepercayaan diri yang tinggi, memiliki keyakinan yang kuat pula terhadap apa yang telah saya percaya. –tentang iindahnya agama saya

Namun keadaan tersebut lekas berubah tuan.

Tiba-tiba saja tuan menyatakan bahwa saya telah diteror oleh keyakinan yang saya percayai sendiri,

Saya telah diajak untuk merusuhi kehidupan teman-teman saya yang berkeyakinan lain

pun tuan katakan bahwa saya telah diajak untuk menggulingkan pemerintahan.

hei tuan… saya tetaplah anak perempuan dari sebuah keluarga. memiliki sanak saudara dan keluarga

Kami tidak menyangka bahwa keyakinan beragama kami telah menjadi teror nyata bagi orang-orang yang beragama lain

Hingga suatu hari keluarga mulai melarang saya untuk melakukan banyak aktivitas di luar, menghentikan jiwa saya yang masih haus mencari ilmu dan hikmah Allah yang tersebar di bumi para pelajar.

Permasalahan utama menjadi lebih nyata, mereka telah terhasut oleh tuan.

Mereka-Keluarga saya kehilangan kepercayaan diri untuk tetap yakin dengan apa yang diyakininya

dan apakah tuan tahu?…

Bahwa teror itu kemudian datang dari Negara saya sendiri tuan,

dari peraturan-peraturannya,

dari kebijakan-kebijakannya,

dari tindakan-tindakan main hakimnya.

Saya merasa terteror tuan… dan kini saya mulai merasa takut,

pada keyakinan yang saya pegang sendiri. ini kah yang tuan mau?

Saya merasa terteror tuan… saat apa yang saya yakini bertolak belakang dengan keyakinan tuan-liberal

sekarang, apakah saya harus mengikuti tuan atau memilih jalan kepercayaan saya sendiri?

Became a stranger-seseorang yang asing di Negaranya sendiri.

Bagaimana Tuan?

—-

Dari : anak perempuan yang sedang resah hidupnya

sarah, di perpustakaan pusat UGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s