Kesendirian

Tidak banyak teman dekat yang tau mengapa sy menyukai hujan. Diantara mereka hanya mengerti bahwa sy akan bergembira dan tersenyum sangat lebar ketika melihat hujan turun.

kenapa sy suka hujan?

Karena hujan datangnya barengan.

Sy membenci ‘kesendirian’, sy takut berjalan ‘sendirian’, sy takut diculik (ok ini lebay). Postingan yang lalu pernah sy ceritakan mengenai ketakutan sy bila sedang sendirian. Terlalu banyak fikiran menyeramkan yang menggelayut atau pelumpuhan keberanian ketika sy sendirian dan tidak ada yang menemani. Sehingga jika hujan turun, sy tidak akan merasa sendirian… hujan datangnya barengan.

Semakin dewasa, tua dan melalui perjalanan hidup, sy justru memperoleh banyak cobaan dan kekuatan dalam hal ‘kesendirian’ ini. memiliki kamar sendiri, hidup dengan orang-orang asing sendiri, merantau sendiri, dan kenyataan bahwa Allah menempa sy untuk bisa mandiri hidup sendiri mulai sy pahami saat masa kerja praktek diperkuliahan dimulai. Dari 7 mahasiswa yang terpilih kerja praktek di Badan Perencanaan Nasional (Jakarta) hanya sy wanita satu-satunya.. (ah ini sih cerita biasa yah, tpi sangat sy rasakan luar biasanya. krna dulunya sy hanyalah seorang gadis dari pulau terpencil yang dikelilingi oleh laut)

well… sy benci ‘sendiri’, tapi Allah ingin agar sy bisa survive sendiri

Masuk ke rencana untuk menikah, salah satu alasan sy saat itu ialah agar tidak ‘sendirian’. agar sy bisa lebih kuat dengan bebarengan. Namun ternyata lagi-lagi Allah ingin menempa sy untuk menjadi lebih mandiri. LDM (Long distance Marriage) di depan mata. Semua hal harus sy persiapkan sendiri, lakukan sendiri dan menikmatinya sendiri. Nah, ini bisa jadi salah satu pelajaran untuk teman-teman yang sedang merencanakan pernikahan. please… jangan menikah hanya karena kamu takut hidup dan mati sendirian :3. Ada banyak hal besar yang bisa direncanakan dan dicita-citakan dengan memulai untuk menikah. (bijak ya gueh). ‘Takut sendirian’ itu bukan alasan untuk menikah! inget loh… mamah udah ngasih pesen loh ya. hha 😀

Tuisan ini banyak curcolnya sih. karna seperti kata fahmi (ponakan baru sy) “aku lagi sensi” mungkin begitulah kondisi sy saat ini #ealah curcol lagi deh.

Oh Allah…

Engkau yang tau bahwa hambamu ini belum kuat hidup ‘sendirian’, makanya Kau uji agar kedewasaan ini lebih matang :’) . OK… sy siap menerima ujian selanjutnya ❤

Dari yang hingga saat ini takut sendirian

b52d76dbc9f6f3077f3decc2391a3621

Advertisements

2 thoughts on “Kesendirian

  1. Hai Dhita,
    Minal Aidzin Wal Faidzin maaf lahir batin, ya!
    Anw, aku di Jakarta loh. Feel free to contact, untuk kita catch up dan berbincang-bincang.
    ..
    ..

    Biar kamu tidak merasa sendiri :’)

    • Taqabbalallahu minna wa minkun kk nia. maaf lahir batin juga jika ada silap-silap selip-selip kata 😀

      kk di JKT mana? abangku di jkt utara (tg.priok) dan omku juga di jkt barat kyknya.

      tapi saat ini dhita masih domisili kuningan (jabar) dan jogja aja kak. padahal kk nia sering main ke jogjaaaa huuuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s