Belajar untuk Mengenal

07aca1c5fe2b739891256554e5d7dee0

Dulu sekali, saya pernah mendengarkan sebuah tausiyah yang di sampaikan oleh sepasang suami istri di sebuah masjid di UGM. Tentang perjalanan panjang pernikahan yang tidak mereka sadari sudah mencapai titik yang sangat jauh. Mereka bertumbuh, berproses dan berubah bersama-sama. Mereka melakukan hal yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh orang lain, kecuali mereka yang telah berkomitmen. Hal tersebut ialah “Belajar untuk Mengenal”. Bagi mereka, mengenal adalah sebuah jalan yang amat panjang, kadang kamu merasa pernah melihat dan merasakan sifatnya, namun terkadang kamu akan merasa asing padanya. Manusia terus bertumbuh dan berubah. Begitupula pasangan, keluarga ataupun teman-teman yang kita miliki. Jika kita tidak berkomitmen untuk menemani mereka dalam masa-masa perubahan itu, maka bisa jadi kita lelah dan berbalik pergi saling meninggalkan.

Belajar untuk Mengenal, tidak hanya dilakukan ketika awal perjumpaan, ketika masa-masa Ta’aruf atau pada waktu-waktu honeymoon. Belajar untuk mengenal, berarti kamu mendedikasikan waktumu untuk mencari tau, memahami dan menyimpannya dalam memory. Sebutlah itu sebagai memory perkenalan, Kapasitasnya paling besar dan memerlukan waktu yang tak terbatas. Kemauan untuk terus mengenal tidak akan membuat perjalanan kalian terhenti ditengah jalan. Meskipun lelah untuk memahami, namun pasti teringat Lillah yang menemani.

Salah satu teman kos saya pernah bercerita, tentang materi kajian yang ia dapatkan dan cocok untuk bekal saya kemudian. Katanya, ada fase dimana kita jatuh cinta terhadap pasangan kita. Hidup rasanya selalu berbunga-bunga, setiap hari kepikiran si dia. Namun fase ini tidak akan bertahan lama. Akan tiba masanya perjuangan keras mempertahankan hubungan. Saat itu jalannya tidak nyaman, mungkin kamu akan merasakan kesedihan yang amat sangat, kelelahan dan kebimbangan untuk tetap bersama atau menyudahkan saja. Hanya orang-orang pilihan yang mampu melewatinya. Masa ini pun tidak lama, sangat berkemungkinan waktunya bisa diperpendek dengan rasa saling percaya, saling menjaga, saling mengerti tanpa berfikir untuk meninggalkan satu dan lainnya. Kemudian terbitlah fase terakhir, yaitu Kelapangan menerima. Wajahnya berubah menua, kamu terima. Kulitnya tak lagi lembut, lentur, putih namun kamu terima. Ingatannya tak lagi sama, kamu terima. sifatnya yang pemarah, tak sabaran, selalu curiga pun kamu terima. Penerimaan itu datangnya karena kebahagiaan yang telah kamu berdua ciptakan bersama lebih banyak. Hingga kamu menyimpan kekecewaan dan keburukan pasangan sebagai bumbu dan bukti bahwa kamu mengenal setiap bagian dari dirinya. Tidak hanya manisnya, namun juga pahitnya.

Belajar untuk mengenal, mungkin menurutmu mudah untuk dijalani dan dimengerti. Namun nyatanya tidak. Nikmatilah rasa sakit itu, rasa sesak yang menggebu ketika perbedaan pemahaman mulai muncul diantara kita. Bisa jadi kamu tumbuh lebih cepat, atau aku. Tapi semoga ini tidak membuat kita melepaskan tangan dan pergi berlalu.

Pesan-pesan ini saya dedikasikan untuk diri saya pribadi 🙂 agar kelak ia tidak berteriak lelah kemudian lari. Akhirnya, dengan tulisan ini saya bisa merefresh beberapa bekal yang sebenarnya sudah saya dapatkan untuk menyongsong hari tua #ceileh. #duh jangan serius-serius amat bacanya sih ^^.

Have a nice day, selamat menebar amal di manapun.

Advertisements

3 thoughts on “Belajar untuk Mengenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s