Tantangan#1 Menjadi Perantara Informasi

Sebagai istri/menantu yang tinggal bersama mertua dalam satu rumah, ada salah satu tantangan komunikasi yang sering saya temukan. Tantangan tersebut ialah sebagai perantara informasi. Baik itu informasi yang saya terima dari mertua kepada pasangan, atau dari pasangan kepada mertua. Terkadang Informasi putus di saya dan tidak tersampaikan dengan baik kepada si penerima 😀

Sama seperti kejadian hari ini. Seperti biasa pada akhir pekan suami pulang kerumah (Kuningan) dari tempatnya bekerja di luar kota (Garut). Sejak hari-hari sebelumnya, Mamah (mertua) sudah meminta saya untuk mulai mensortir foto dan phigura2 bagus yang masih layak untuk digunakan. Nantinya, Phigura itu diminta untuk dipasangkan di dinding-dinding rumah yang memang masih kosong. Bapak (mertua) pun mulai mengabsen keperluan untuk memasang phigura, seperti palu dan paku beton. Tentunya nanti mereka meminta tolong agar phigura dapat dipasangkan oleh suami.

Setelah semua foto dan phigura sudah saya bersihkan, tibalah saatnya menunggu suami pulang dan menyampaikan permintaan tolong tersebut. Informasi terakhir yang saya dapatkan dari mertua ialah :

  1. Palu di rumah tidak tahu kemana. Sudah lama dicari namun tidak ketemu juga
  2. Akhirnya bapak membelikan 1 palu dari Toko
  3. Bapak berkata bahwa paku beton bisa diambil di rumah lama kami (di samping rumah) karena bapak telah memakainya di sana

Oke, dengan berbekal 3 informasi tersebut. Sampailah saya pada kesempatan untuk menyampaikannya kepada suami, meminta tolong agar ia dapat membantu memasangkan phigura foto yang telah saya persiapkan. Kesalahan pertama yang sama lakukan ialah, kemungkinan saya mengatakannya disaat yang tidak tepat. Sehingga ketika suami sedang lelah-lelahnya perjalanan dan ingin istirahat ia merasa terganggu hhe. Lalu saya ulangi kembali permintaan itu saat kita sedang berbincang-bincang di kamar dengan berkata “setelah sholat dzuhur nanti, aa tolong pasang phiguranya yaa..” (sambil pasang mata yang berkedip-kedip) wkwk. Fiks… dengan cara penyampaian yang clear 1 informasi, suami bisa menerimanya dengan baik hingga mengiyakan untuk memasangnya setelah sholat dzuhur.

Namun, tantangan selanjutnya kemudian muncul. Saya belum mengatakan informasi ketiga dari bapak. Yaitu , paku dapat diambil di rumah sebelah. Sontak saat itu juga suami jadi uring-uringan dan tidak jadi menolong memasangkan phigura, sambil berjalanmasuk ke kamar. Memang terjadi perdebatan sedikit antara saya dan suami hanya karena persoalan paku XD yaelah… saat itu, mamah mertua juga sedang berada di depan Tv (sedang nonton? Tidak.. tapi sedang tidur). lalu saya berfikir untuk tenang dulu dan memperbaiki cara penyampaian saya yang mungkin salah sehingga bisa-bisanya suami melakukan penolakan seperti itu. Saya menuju ke kamar mendekati suami. Menutup pintu dan mulai menarik nafas untuk menata kata-kata kembali. Untuk kali ini, saya menggunakan intonasi yang lebih rendah dan menatap matanya seakan saya mempercayainya bahwa ia pasti mampu menemukan paku itu di rumah sebelah (ceileh), suami jg sudah tidak bersuara tinggi lagi, lalu saya akhiri dengan memuji dan memberi bonus ke**pan ala2 di pipi gemesnya XD. Selesai…. lebih baik saya keluar dari kamar untuk melanjutkan pekerjaan menyetrika baju dan mempercayakan hal ini padanya.

Taraaaa… tanpa harus berlelah-lelah lagi, suami mengerjakannya sendiri. Mencari paku beton di rumah sebelah. Yah… meskipun ada banyak kendala terkait paku ini, pada akhirnya suami harus membeli paku baru di toko, lalu bapak ikut membantu memasangkan phigura. Akhirnya semua selesai. Phigura terpasang dengan cantik di dinding tangga J Good Job. Sama seperti materi yang disampaikan pada Level #1 pada kelas bunda sayang. Bahwa ada beberapa aspek yang harus kita perhatikan ketika berkomunikasi dengan pasangan (sesama orang dewasa) yaitu diantaranya yang saya praktekan disini ialah, berbicara pada waktu yang tepat, Clear and clarify serta mengatur intonasi dan tatapan mata. Kemudian sebagai pelengkap terakhir ialah agar “bertanggung jawab atas hasil dari informasi yang kita sampaikan” jika penerima pesan tidak menerima dengan baik, maka kitalah yang harus memperbaiki cara komunikasi kita bukan malah menyalakan pasangan.

Sekian dan terimakasih untuk tantangan pertama #uhuuuy… selamat menanti review tantangan 16 hari kedepan~. Doakan agar saya selalu konsisten mengerjakan tugas yaa :*

#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s