Tantangan #2 Meminta Tolong

Sabtu 4 November 2017

Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita tidak akan melakukan semuanya sendirian. Terkadang kita memerlukan kerjasama tim untuk dapat menyelesaikan sesuatu. Termasuk dalam hal domestik membersihkan rumah sekalipun. Namun dalam kondisi pasangan LDM (Long Distance Marriage)  yang hanya bertemu diakhir pekan seperti kami, banyak hal yang perlu dipertimbangkan bersama terkait hal tolong-menolong ini.

Saya telah mempersiapkan hari kemarin (Jumat) dan hari-hari sebelumnya untuk dapat mengkomunikasikan pekerjaan rumah tangga yang agak sulit untuk saya kerjakan akhir-akhir ini. Yaitu, mengepel Lantai rumah. Untuk pekerjaan mengepel sy membutuhkan lebih banyak energi kekuatan #ceileh apalagi di kondisi berbadan dua seperti ini. Sehingga saya berinisiatif untuk meminta tolong lebih dahulu dengan menawarkan jasa menyapu sebelumnya dan membersihkan kamar mandi serta menguras bak mandi. Suami menyetujui dengan tanpa keluhan yang berarti 😀 Alhamdulillah.

Qadarullah pada hari ini, saya lupa sekali dengan perjanjian menyapu tersebut. Sedangkan suami sudah menyelesaikan pekerjaan yang harusnya sy kerjakan ( membersihkan kamar mandi serta menguras bak mandi) Siangnya sayapun disibukkan dengan undangan ulang tahun yang diadakan oleh keponakan di kota kuningan. Sedang suami memilih untuk tetap di rumah.

Setibanya saya di rumah, ternyata suami sedang bebersih menyapu. Telah memasak jamur krispi untuk makan, serta mencuci piring-piring kotor. MasyaAllah… Suami Bageur Sholih. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang berlipat dan memaafkan kelalaian istrintya. Hingga maghrib ia telah menyelesaikan pekerjaaan mengepel lantai dengan sangat bersih.

Segala yang saya inginkan tercapai. Bahkan lebih dan terkesan membahagiakan. Melihat suami yang mengerjakan pekerjaan tanpa wajah keluhan merupakan sebuah kesyukuran tersendiri. Namun sejujurnya, saya sedikit sedih dengan Cara yang saya ambil ketika berkomunikasi dengan suami pada hari jumat tersebut. Saya tidak bisa mempraktekan ilmu  Clear and clarify dalam berkomunikasi. Tidak mengedepankan nalar dari pada emosi. Namun saya mengatakannya dengan menangis pada hari itu. Entah apa yang ada di pikiran bumil pada saat itu,  tapi rasanya sesak sekali dan tidak bisa menyampaikan dengan jelas. Saya hanya mampu berkata bahwa saya Lelah untuk hanya sekedar Sholat Rutin berjamaah di Musholah dekat rumah kami. Astaghfirullah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s